Masalah Kesehatan Ibu dan Anak: Indonesia Terus Berbenah

Masalah Kesehatan ibu dan anak pada sebuah negara menjadi indikator keseriusan negara tersebut dalam menangani isu kesehatan. Sejak indonesia merdeka 77 tahun silam, dunia kesehatan indonesia terus berbenah untuk menyajikan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik untuk rakyatnya.

Pun dengan masalah kesehatan ibu dan anak. Ada sejumlah catatan masalah kesehatan perihal ibu dan anak di indonesia.

Masalahan Kematian Ibu

Menurut Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Prof. Abdul Kadir mengatakan bahwa Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia terbilang masih tinggi.

Menurut data yang dilansir situs Kemenkes, tahun 2018, sekitar 76% kematian ibu terjadi di fase persalinan dan pasca persalinan dengan proporsi 24% terjadi saat hamil, 36% saat persalinan dan 40% pasca persalinan. Yang mana lebih dari 62% Kematian Ibu dan Bayi terjadi di rumah sakit.

Masih tingginya angka kematian ini disebabkan oleh berbagai faktor risiko. Mulai dari fase sebelum hamil yaitu kondisi wanita usia subur yang anemia, kurang energi kalori, obesitas, mempunyai penyakit penyerta seperti tuberculosis dan lain-lain.

Kondisi pada saat hamil juga turut menyumbang angka kematian ini, seperti hipertensi, pendarahan, anemia, diabetes, infeksi, kelainan jantung dan lain-lain.

Pada 2020 hingga 2021 angaka kematian ibu dan bayi ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19. Berdasarkan data Direktorat Kesehatan Keluarga per 14 September 2021 tercatat sebanyak 1086 ibu meninggal dengan hasil pemeriksaan swab PCR/antigen positif. Sementara dari data Pusdatin, jumlah bayi meninggal yang dengan hasil swab/PCR positif tercatat sebanyak 302 orang.

Kematian Bayi

Seperti halnya di negara berkembang pada umumnya, kematian bayi di indonesia masih dikatakan tinggi. Namun demikian, angka kematian bayi ini terus menurun setiap tahun. Seiring dengan semakin meleknya pendidikan ibu, kebersihan serta kemudahan akses layanan kesehatan ibu dan anak.

Memang sebagian besar kematian bayi di indonesia terjadi pada fase neonatal atau baru lahir. Kematian yang disebabkan karena faktor kehamilan ibu yang kurang sehat, menjadi dugaan terjadi nya hal ini.

Permasalahan Gizi Buruk Pada Bayi dan Anak

Permasalahan gizi buruk ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu:

Stunting – Gizi Buruk yang Kronis

Stunting merupakan gizi buruk yang paling sering dijumpai pada anak-anak indonesia. Kondisi yang disebabkan oleh buruknya asupan gizi dalam waktu yang relatif lama. Dimana tubuh tidak mendapatkan asupan gizi yang sesuai.

Tanda-tanda tubuh anak terkena Stunting:

  • Tinggi dan berat badan anak tidak sesuai anak seusia nya
  • Pertumbuhan tulang dan tubuh tertunda. Anak tampak lebih muda dari usia nya

Stunting pun diduga meningkatkan risiko pengembangan penyakit tidak menular lainnya pada usia lanjut. Bahkan masalah gizi ini bahkan dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, obesitas, dan kematian akibat infeksi.

Gizi Kurang

Bayi yang lahir dengan kondisi kekurangan gizi, akan memiliki berat badan yang relatif dibawah rata-rata bayi pada umumnya. Permasalahan bayi dengan gizi kurang ini memiliki ciri utama yaitu Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Bayi dikatakan BBLR jika memiliki berat badan dibawah 2.500 gram.

Bayi dengan kondisi ini biasa nya memiliki kesehatan yang kurang baik, dan akan rentan terhadap berbagai macam penyakit saat sang bayi beranjak dewasa.

Resiko penyakit yang mungkin menerpa bayi dengan Gizi kurang bisa berupa: Malnutrisi, AVitaminosis, Anemia, Osteoporosis, Penurunan Kekebalan Tubuh serta masalah tumbuh kembang saat bayi beranjak remaja higga dewasa.

Dikutip dari Hello Sehat, berdasarkan laporan gizi global atau Global Nutrition Report pada 2018, Indonesia termasuk ke dalam 17 negara yang memiliki 3 permasalahan gizi sekaligus. Ketiganya yaitu stunting (pendek), wasting (kurus), dan overweight (obesitas).

Obesitas (gizi lebih) termasuk dalam masalah gizi yang mengancam kesehatan masyarakat. Kondisi ini terjadi saat terdapat kelebihan lemak yang serius pada tubuh sehingga menimbulkan berbagai gangguan kesehatan.

Penyebab gizi lebih yang paling mendasar yaitu ketidakseimbangan energi dan kalori yang dikonsumsi dengan jumlah yang dikeluarkan. Jika kalori yang masuk lebih banyak dibandingkan yang keluar, kalori ekstra tersebut dapat berubah menjadi lemak.

Bila sejak kecil anak sudah mengalami obesitas, mereka akan lebih rentan mengidap penyakit tidak menular ketika dewasa. Masalah gizi ini berkaitan erat dengan diabetes tipe 2, penyakit stroke, dan penyakit jantung.

Leave a Comment