Kenali Seluk-Beluk Membuat Cerita Fabel

Cerita fabel sudah tidak asing dan identik dengan cerita yang digambarkan atau diwakilkan dengan karakter hewan. Pada umumnya cerita ini disukai anak-anak dikarenakan karekter yang diperankan dan diceritakan terlihat lucu dan menarik. Namun, tahukah Anda cara membuat cerita yang bisa diminati dan disukai anak-anak saat Anda mengisahkannya? Oleh karena itu simak informasinya berikut.

Pengertian

Kata fabel awal mulanya diambil dari Bahasa Inggris yakni fable yang memiliki arti suatu cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku layaknya manusia. Cerita ini biasanya berupa cerita palsu, cerita yang hanya dibuat-buat, cerita fiksi, cerita khayalan atau cerita hasil imajinasi saja. Namun, sekalipun cerita hanya dibuat-buat, tetap mengandung pesan yang berkaitan dengan moral.

Alasan Penggunaan Tokoh Hewan

Pada umumnya cerita ini menggunakan hewan sebagai penggambaran secara fiktif dalam penyampaian sebuah pesan atau moral. Tentu hal ini akan menimbulkan pertanyaan, mengapa harus menggunakan hewan dalam menceritakan sebuah kisah? Apakah tidak bisa menggunakan karakter lain misalnya tumbuh-tumbuhan atau benda yang lainnya?

Hal ini dikarenakan karakter hewan atau binatang dalam cerita fabel dianggap mewakili karakter manusia. Binatang atau hewan yang dikisahkan mampu bertindak layaknya manusia tapi tidak menghilangkan karakter binatang atau hewan itu sendiri. Selain itu, untuk memudahkan pemahaman dan menarik rasa ingin tahu maupun atensi atau perhatian anak-anak dalam memerhatikan kisah.

Tujuan Cerita Fabel

https://www.kozio.com/cerita-fabel/

Sekalipun kisah yang diceritakan dalam cerita ini adalah cerita khayalan bahkan tidak sesuai realita, cerita ini menjadi cerita yang tingkat penyebarannya cukup luas di tengah-tengah masyarakat. Baik  itu secara tertulis maupun secara lisan. Hal ini dikarenakan tujuan adanya cerita ini bisa memberikan dampak yang bisa diturunkan kepada anak, cucu hingga generasi keturunan selanjutnya.

Oleh karena itu, tujuan utama adanya cerita ini adalah memberikan ajaran moral atau pesan moral dengan menunjukkan sifat-sifat jelek maupun baik manusia sekaligus sebab akibat dari perbuatan yang dilakukan manusia melalui simbol binatang. Melalui simbol berupa tokoh binatang inilah, biasanya pengarang cerita ingin memengaruhi pembaca atau penikmat cerita agar mencontoh yang baik dan membuang contoh yang buruk.

Ciri-Ciri Cerita Fabel

Suatu karya sastra antara yang satu dengan lainnya tentu memiliki perbedaan. Termasuk karya sastra yang identik dengan tokoh hewan ini. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih rinci mengenai karya sastra ini, simak  informasi lengkapnya mengenai ciri-ciri cerita fiksi fabel berikut.

1. Berjenis Fiksi

Certia fabel biasanya termasuk cerita yang dibuat-buat atau fiksi. Cerita yang disajikan biasanya hasil imajinasi atau karangan belaka. Tidak berdasarkan realita atau sesuai dengan kehidupan asli dan nyata. Semua ide cerita hanyalah khayalan. Sekalipun ide cerita yang dikisahkan adalah cerita yang hanya dibuat-buat dan bohong, cerita ini termasuk yang bisa memberikan pesan tersendiri atau moral yang bisa dipelajari.

2. Menggunakan Tokoh Binatang

Ciri yang paling menonjol adalah tokoh yang dikisahkan dalam cerita. Pada umumnya, cerita ini menggunakan tokoh hewan atau binatang. Apabila Anda membaca suatu buku yang isinya ada hewan atau binatang, pasti cerita tersebut langsung bisa dideteksi sebagai cerita fabel. Misalnya ada kata singa, kancil, kelinci, kura-kura, hutan, alam dan sebagainya. Inilah yang menjadi ciri khas dan utamanya.

3. Berwatak Mirip Manusia

Terkadang, yang paling menarik dari cerita ini adalah watak, karakteristik maupun sifat binatang atau hewan yang dikisahkan hampir mirip dengan watak, karakteristik maupun sifat manusia. Pada umumnya, karakteristik sifat hewan atau binatang ini hampir selalu sama dari satu kisah ke kisah fabel lainnya. Sekalipun tidak semuanya, namun kebanyakan sifat yang dimiliki terlihat mirip.

Tidak hanya itu saja, sifat baik dan buruk juga tersematkan dalam karakter hewan atau biantang pilihan. Layaknya manusia yang memiliki kepribadian yang baik dan buruk, hewan atau binatang pilihan yang dikisahkan juga memiliki kepribadian yang mirip. Sebisa mungkin semua kepribadian manusia diadaptasi dan disematkan dalam kepribadian hewan atau binatang untuk mewakili sebuah kisah.

Misalnya saja hewan atau binatang singa yang memiliki sifat mulia. Singa yang merupakan raja hutan bisa memberikan keputusan yang bijak untuk anak buahnya di dalam hutan. Selain itu, biasanya ada kancil yang memiliki kecerdasan yang luar biasa. Namun, biasanya dan terkadang suka menipu atau mencuri. Ada juga kelinci yang sombong dan suka mengolok-olok kura-kura yang larinya lambat dan tidak pintar.

4. Berperilaku Mirip Manusia

Ciri berikutnya yang bisa Anda lihat adalah adanya tingkah laku tokoh yang mirip dengan manusia. Selain memiliki watak, sifat dan karakter, tokoh hewan atau binatang ini juga berbicara sesama tokoh lainnya. Benar-benar sama dengan manusia saat menjalin komunikasi dan bersosialisasi. Begitu juga saat sedang terjadi adanya peristiwa seperti pertikaian, perdebatan, dan lainnya yang juga mirip dengan perangai manusia.

5. Memiliki Latar atau Setting

Pada umumnya cerita fabel menggunakan setting atau latar yang paling kentara adalah nuansa alam. Hal ini biasanya diidentikkan dengan habitat asli binatang yakni di alam yang terbuka. Biasanya tempat yang dimasukkan dalam cerita adalah hutan, kolam, pohon, sungai, danau, gubuk petani dan lain sebagainya. Selain latar tempat, cerita ini juga memberikan latar waktu layaknya waktu yang dijalani manusia. Misalnya siang hari ada beberapa aktivitas yang dihentikan dahulu untuk beristirahat.

6. Memiliki Alur

Cerita fabel biasanya menggunakan alur maju yakni alur yang menceritakan secara berurutan dari awal sampai akhir. Alur yang berurutan dari awal sampai akhir dari cerita ini, mengisahkan rangkaian peristiwa yang biasanya menunjukkan kejadian sebab-akibat. Ada beberapa tokoh yang memiliki watak baik dan melakukan kebaikan akan memperoleh kebaikan pula.

Ada tokoh yang memiliki watak buruk yang melakukan keburukan juga akan memperoleh akibat yang buruk. Model seperti inilah yang biasanya menjadi ciri khas cerita fabel yakni menceritakan tokoh yang baik dengan akhir yang bahagia dan tokoh jahat yang berakhir sengsara atau mendapat akibat dari perbuatannya.

7. Mengandung Amanat

Ciri lainnya yang bisa dilihat biasanya mengandung amanat atau moral cerita. Setiap tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan setiap tokoh binatang pasti mengandung amanat atau pesan tersendiri. Amanat atau pesan biasanya tertulis maupun tersirat secara tidak langsung. Dengan begitu, pesan atau amanat ini bisa disampaikan kepada pembaca atau penikmat cerita agar bisa mengambil hikmah dalam kehidupan sehari-hari.

8. Berbahasa yang Khas

Pada dasarnya bahasa yang digunakan pada cerita ini memiliki bahasa yang berbeda dari bahasa karya sastra lainnya. Berbeda di sini adalah saat pembaca atau penikmat cerita ini membaca pasti akan mendapatkan nilai yang langsung bisa ditangkap atau dipahami. Berikut ini ada beberapa poin dalam hal bahasa yang digunakan.

a) Kalimat Naratif

Cerita fabel termasuk teks narasi. Setiap kalimat yang ada didalamnya bersifat naratif untuk menjelaskan peristiwa yang terjadi. Maksud dari narasi adalah menceritakan maupun menjabarkan secara terperinci mengenai objek cerita. Misalnya cerita tentang singa yang bijaksana. Kalimat narasinya bisa berupa “di dalam hutan yang luas dan hijau hiduplah seekor singa yang sedang tidur di atas batu besar.”

Jadi, teks narasi yang digunakan dalam setiap cerita ditulis sedemikian rinci agar pembaca atau penikmat cerita bisa membayangkan atau merasakan seperti nyata. Seolah-olah pembaca atau penikmat cerita bisa ikut merasakan di dalam kisah. Apabila latar atau tempatnya di dalam hutan, pembaca bisa merasakan bagaimana hidup di dalam hutan. Bagaimana rasa sosialisasi diantara para penghuni hutan, dan sebagainya.

b) Kalimat Langsung

Selain menggunakan teks yang bersifat naratif, cerita fabel juga termasuk menggunakan kalimat yang langsung berupa dialog antar tokoh. Selayaknya manusia saat berkomunikasi antara yang satu dengan lainnya, komunikasi binatang di dalam cerita ini juga menggunakan dialog sama dengan manusia. Adapun tujuan penggunaan kalimat langsung ini adalah memperjelas situasi dan kondisi serta alur dari cerita.

c) Bahasa Santai

Ciri dari penggunaan bahasa yang bisa Anda lihat dan teliti lagi adalah penggunaan bahasa percakapan berupa kata-kata sehari-hari dalam situasi tidak formal atau terkesan santai. Memang bahasa yang digunakan adalah bahasa yang santai dan tidak terlalu menggunakan istilah yang terlalu sulit dimengerti. Dengan begitu, anak-anak yang menjadi sasaran utama sebagai pembaca atau penikmat cerita bisa lebih memahami dari pesan maupun alur dari cerita.

Unsur Cerita Fabel

Dalam sebuah cerita ada beberapa unsur pembangun agar cerita tersebut menjadi utuh. Unsur-unsur ini harus ada agar cerita bisa menjadi kisah secara keseluruhan dan bisa memberikan nilai pelajaran tersendiri. Oleh karena itu, Anda bisa coba cek kembali dan memahami unsur pembangun cerita ini terutama sebelum membuat cerita fabel.

a) Tema

Tema merupakan gagasan utama yang mendasari sebuah cerita. Pada umumnya, tema dapat ditemukan dari kalimat kunci yang diungkapkan tokoh yang mengalami suatu masalah atau kejadian. Tema juga dapat diketahui melalui penyimpulan dari keseluruhan peristiwa sebab-akibat pada suatu cerita. Adanya tema dalam cerita, membuat kisah dalam cerita menjadi jelas arah atau alur ceritanya.

b) Tokoh

Tokoh adalah pemeran yang ada di dalam suatu cerita baik itu orang atau binatang yang menjadi pelaku dalam cerita. Tokoh dalam suatu cerita ada yang disebut tokoh utama, tokoh kedua dan tokoh pembantu (tokoh tambahan). Adapun ciri-ciri dari suatu tokoh utama biasanya yang sering dibicarakan, sering muncul, menjadi pusat cerita dan berperan untuk menggerakkan jalan cerita. Pada umumnya tokoh utama inilah yang beradu peran dengan tokoh kedua.

c) Penokohan

Tokoh dan penokohan jelas berbeda. Apabila tokoh adalah pemeran, sedangkan penokohan adalah pemberian karakter pada tokoh. Ada berbagai jenis pada karakter yang bisa disematkan pada tokoh. Karakter tersebut bisa bersifat protagonis atau karakter baik. Biasanya karakter ini paling banyak disukai. Hal ini dikarenakan tokoh dengan karakter protagonis termasuk tokoh yang tidak terlalu menimbulkan banyak masalah.

Selain ada  karakter protagonis atau karakter baik, ada pula karakter antagonis. Karakter antagonis ini biasa disebut sebagai karakter jahat. Karakter ini termasuk karakter yang paling tidak disukai. Pasalnya, karakter ini terlalu banyak menimbulkan masalah dan selalu menjadi pemicu. Ada pula karakter yang biasa-biasa saja. Bisa juga dibilang mudah terpengaruh dengan sikap pemeran protagonis dan antagonis. Pada umumnya, karakter ini biasa diperankan oleh pemeran tambahan atau pemeran figuran.

d) Watak

Watak merupakan sifat batin yang biasa ada pada manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku. Pada cerita fabel ini, watak manusia diwakilkan pada binatang atau hewan yang berperan. Watak tokoh dapat diketahui dan dapat disimpulkan dari penggambaran tindakan tokoh, dialog tokoh, monolog, komentar atau narasi penulis tentang tokoh tersebut maupun dari  penggambaran fisik.

Misalnya saja mata yang sipit cenderung terlalu meremehkan lawan bicara saat sedang mengobrol. Tindak lakunya gusar dan cenderung membentak saat menyuruh. Hal-hal seperti ini yang biasanya mewakili penjabaran watak tokoh yang secara langsung digambarkan dalam bentuk narasi atau cerita yang rinci. Bisa juga melalui dialog seperti “Dasar kura-kura yang selalu lambat dalam berjalan.” Teriak kelinci.

e) Latar (Setting)

Cerita ini selalu memiliki latar atau setting. Latar bisa terbagi menjadi beberapa hal. Pertama latar yang menunjukkan tempat atau lokasi. Pada umumnya, latar atau tempat cerita fabel ini selalu bernuansa alam terbuka. Kebayakan adalah hutan. Bisa juga Anda menggunakan latar, tempat, atau lokasi kolam dengan tokoh utama ikan, misalnya. Bisa juga Anda menggunakan latar seperti gurun sahara atau pegunungan.

Selain ada latar tempat yang menunjukkan lokasi atau tempat cerita dikisahkan, ada juga latar yang menunjukkan waktu. Misalnya pada sore hari, pagi hari, malam hari, senja, sinar mulai temaram, maupun arunika yang menandakan adanya cahaya matahari pagi sesudah terbit. Istilah-istilah atau kalimat yang memang secara tidak langsung menandakan waktu, bisa juga dimasukkan dalam cerita.

Di samping ada latar tempat, latar waktu, ada juga latar yang menandakan kondisi maupun situasi. Misalnya saja, saat kancil mulai masuk ke pekarangan warga lalu diam-diam mencuri timun miliki petani. Pada saat melancarkan aksinya tiba-tiba ada tetangga petani lainnya yang lewat. Tentu hal ini membuat kancil mulai mencari cara agar tidak ketahuan. Hal-hal semacam inilah yang juga menggambarkan kondisi atau situasi pada suatu cerita meskipun tidak tertulis mencekam, namun melalui kalimat cerita atau narasi.

f) Amanat

Unsur pembentuk cerita fabel lainnya adalah adanya amanat atau pesan. Setiap kisah, cerita maupun kejadian selalu memberikan amanat atau pesan. Tujuan adanya pesan atau amanat ini agar pembaca atau penikmat cerita bisa mengambil pelajaran agar jangan sampai meniru perbuatan buruk yang dilakukan oleh tokoh. Namun, bisa mengambil pelajaran yang baik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini dikarenakan setiap perilaku atau perbuatan selalu ada dampak atau efek buruk bagi yang melakukan perbuatan buruk. Begitu juga dengan perbuatan baik. Apabila tokoh melakukan perbuatan baik, pasti akan ada dampak atau efek yang diakibatkan dari perbuatan baik. Dengan begitu pembaca atau penikmat cerita tidak sampai memperoleh dampak buruk bila hendak melakukan hal keburukan.

Jenis Cerita Fabel

Cerita fabel termasuk teks

Cerita yang mengusung kisah persimbolan tingkah laku manusia dengan hewan atau binatang ini memiliki dua jenis. Jenis ini bisa dilihat dan disimpulkan saat membaca atau menikmati pesan. Anda bisa menemukan dan menebak suatu cerita ini dari kesimpulan akhir cerita maupun dari pertokohan. Berikut ini jenis-jenisnya.

1. Dilihat dari Pemberian Watak dan Latar

Apabila dilihat dari pemberian watak dan latarnya, fabel bisa dikelompokkan menjadi dua jenis:

a)  Fabel Alami

Fabel alami adalah cerita dengan pemeran tokoh binatang yang menggunakan karakter, watak maupun penokohan layaknya hewan atau binatang pada kondisi alam nyata. Misalnya binatang singa yang merupakan binatang yang terkenal sebagai raja hutan karena berwatak buas dan ganas. Apabila singa duduk dan diam, banyak binatang yang takut untuk berdekatan.

Begitu juga dengan hewan atau binatang zebra yang tekenal di hutan hidup secara berkelompok. Dengan begitu, tingkat sosialisasinya termasuk baik. Apabila ada salah satu dari kawanannya yang termakan buaya saat menyeberangi atau minum air di sungai, kawanan lainnya akan berusaha menolong agar kembali selamat.

b) Fabel Adaptasi

Fabel adaptasi adalah cerita dengan pemeran tokoh binatang dengan memberikan watak, karakter maupun penokohan dengan mengubah watak asli hewan pada dunia nyata dan menggunakan latar lain bukan di alam bebas atau alam terbuka. Misalnya singa yang terkenal sebagai binatang buas berubah menjadi binatang yang sangat lembut dikarenakan hilang ingatan saat waktu kecil terjatuh dari tanah bebatuan. Tentu hal ini berbanding terbalik dari keadaan atau realita yang ada.

2. Dilihat dari Pemberian Pesan dan Amanat

Cerita fabel 3 paragraf

Selain dilihat dari pemberian watak dan latar, cerita fabel juga bisa dikelompokkan menjadi dua dari segi kemunculan pesan atau amanatnya. Berikut penjelasannya.

a) Fabel dengan Koda

Jenis cerita yang terdapat tokoh binatang atau hewan sebagai pemeran ini, memunculkan pesan atau amanat secara eksplisit di akhir cerita. Maksudnya adalah pesan yang ingin penulis atau pembuat cerita sampaikan, secara jelas tertulis dan tersampaikan pada akhir cerita. Misalnya saja pesan yang diinginkan oleh pembuat cerita adalah menjaga kerunan.

Pada umumnya pada bagian akhir cerita tertulis secara narasi bahwasanya untuk menjaga kerukunan sesama makhluk ciptaan Tuhan tidak boleh saling menjatuhkan. Hal yang dilakukan oleh kelinci kepada kura-kura adalah curang saat permainan. Apabila sudah timbul rasa curang, muncullah rasa ingin saling menjatuhkan dengan tidak baik. Dengan begitu, salah satu cara menajga kerukunan adalah bersaing dengan cara yang baik dan adil.

b)    Fabel tanpa Koda

Jenis yang satu ini tentu terbalik dengan jenis sebelumnya. Apabila jenis sebelumnya menampilkan pesan atau amanat secara eksplisit yang dilakukan secara terus terang tanpa berbelit-belit sehingga pembaca menjadi lebih jelas, jenis justru tidak menampilkan pesan secara gamblang. Pada akhir cerita, Anda tidak akan menemuka pesan atau amanat yang dimaksudkan oleh pengarang atau pembuat cerita.

Pada umumnya, akhir cerita fabel tanpa koda ini justru memberikan pesan atau amanat yang menyebar di akhir-akhir paragraf. Pembaca atau penikmat cerita dipaksa untuk menyimpulkan atau memberikan kesan terhadap pesan atau amanat dari cerita tersebut. Dengan begitu, antara pembaca yang satu dengan pembaca yang lainnya tentu akan memberikan pesan atau amanat yang berbeda. Hal ini dikarenakan setiap pembaca memiliki sudut pandang tersendiri.

Cara Membuat Cerita Fabel

Cerita fabel biasanya menggunakan alur

Bagi Anda yang ingin membuat cerita yang penuh dengan tokoh hewan atau binatang ini, ada beberapa cara yang harus Anda perhatikan sebagai berikut.

1. Uraikan Cerita

Sebelum Anda menguraikan dasar cerita, ada beberapa langkah yang harus Anda lakukan seperti di bawah ini:

a) Tentukan Tema yang Mengandung Pesan Moral

Pertama, Anda harus menentukan pesan moral atau amanat seperti apa yang hendak Anda sampaikan ke pembaca atau penikmat cerita. Hal ini dikarenakan pesan atau amanat merupakan inti dari suatu cerita yang disimbolkan dengan binatang. Pesan atau amanat yang ada di dalam cerita fabel harus berhubungan dengan atau mencerminkan masalah budaya yang berkaitan, yang pada dasarnya berhubungan segala aspek atau gambaran luas mengenai kondisi masyrakat.

b) Tentukan Permasalahan

Cerita fabel menggunakan setting

Masalah merupakan bagian yang mengarahkan jalan atau alur dari suatu aksi yang diperankan tokoh. Permasalahan yang muncul akan menjadi sumber utama hadirnya pesan atau amanat yang harus dipelajari oleh pembaca. Misalnya saja perlombaan kelinci dan kura-kura yang ternyata kelinci melakukan aksi kecurangan dan mengejek-ejek serta memfitnah kura-kura.

c)     Tentukan Tokoh

Ketiga, Anda harus menentukan tokoh yang disematkan karakteristik, watak, sekaligus penokohannya. Dengan begitu, setiap tokoh bisa mencirikan atau didefinisikan secara jelas mengenai perangai masing-masing tokoh yang berperan. Dikarenakan cerita fabel singkat dan sederhana, usahakan tidak menggunakan karakter yang rumit atau memiliki kepribadian ganda.

Pilihlah karakter yang jelas dengan pesan atau amanat. Hal ini dikarenakan karakter tokoh akan menjadi sarana utama dalam penyampaian pesan atau amanat. Misalnya saja kura-kura yang dikaitkan dengan hal-hal yang lama dan lambat seperti jalannya. Kelinci yang dikaitkan dengan hal-hal yang bergerak cepat.

https://fungsi.co.id/pengertian-fabel/

d)    Tentukan Pola Dasar Karakter

Pola dasar karakter adalah karakter yang Anda pilih sesubjektif mungkin. Bila sebelumya ada karakter sesuai dengan objektif dan berdasarkan realita yang ada, kini Anda bisa membuat karakter sesuai keinginan Anda. Misalnya saja hewan singa yang dilambangkan dengan kekuatan, kebanggaan dan kekuasaan. Hewan atau binatan serigala yang dilambangkan dengan keserakahan, ketamakkan dan ketidakjujuran.

e)    Tentukan Latar atau Setting

Pilihlah latar atau setting yang sederhana dan dapat dikenali pembaca dengan cepat tanpa membuat pembaca menjadi berpikir lama untuk menerka-nerka. Caranya Anda bisa membuat latar sesuai dengan karakter tokoh. Misalnya kelinci dan kura-kura yang berlomba di jalan yang melalui hutan. Pada saat melakukan perlombaan banyak hewan atau binatang lain yang menyaksikannya.

2. Tulis Cerita

Cerita fabel singkat

Apabila semua konsep cerita sudah ada, saatnya Anda menuliskan cerita dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a)    Buat Alur Cerita

Pada umumnya alur yang digunakan adalah alur maju. Artinya, semua hal yang menjadi masalah dalam cerita harus secara langsung dan jelas dipaparkan dan berakhir dengan penyelesaian atau pesan moral. Usahakan menggunakan tempo yang singkat dan sederhana, bukan menggunakan kalimat narasi yang terlalu berbelit-belit.

b)    Kembangkan Dialog

Fabel

Dialog atau percakapan merupakan komponen utama dalam menyampaikan sifat, karakteristik dan sudut pandang tokoh. Ada baiknya menggunakan dialog yang menggambarkan tokoh secara langsung daripada menarasikan secara panjang lebar. Apabila memilihkan dialog untuk tokoh, pastikan untuk memasukkan dialog yang cukup untuk mengilustrasikan hubungan antar tokoh dan konflik.

c)     Tentukan Penyelesaian Permasalahan

Penyelesaian massalah yang diciptakan haruslah memuaskan semua pihak baik itu penulis maupun pembaca. Penyelesaian masalah ini harus berkaitan dengan komponen cerita, seperti hubungan sesama tokoh, latar dan karakter-karakter lain dari tokoh lain. Adapun cara menentukan penyelesaian masalah adalah memikirkan tokoh dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang bisa memberikan pesan atau amanat kepada pembaca.

d)    Sampaikan Pesan atau Amanat

Cerita fabel

Apabila langkah-langkah di atas sudah selesai dibuat, tentukan pesan yang dinyatakan dalam satu kalimat yang penuh arti. Sampaikan dengan cara meringkas masalah dan penyelesaiannya serta hal-hal yang perlu dipelajari dari penyelesaian tersebut. Apabila semua sudah selesai, Anda tinggal memilih judul yang kreatif dan sesuai.

Demikian informasi mengenai cerita fabel yang bisa Anda pelajari. Sebelum Anda membagikan cerita, ada baiknya untuk meninjau kembali dan memperbaiki apabila ada hal yang dirasa kurang. Selain itu, pastikan juga tata bahasa dan gaya kepenulisan telah baik dan tidak terlalu panjang lebar atau cukup 3 paragraf hingga 5 paragraf. Hal ini dikarenakan  cerita fabel 3 paragraf merupakan cerita yang mudah diterima terutama untuk anak-anak.

 

1 thought on “Kenali Seluk-Beluk Membuat Cerita Fabel”

Leave a Comment