Ibu yang Baik – Tantangan Menjadi Ibu Generasi Milenial

Ibu yang baik untuk generasi milenial

Semua ibu setuju. Menjadi ibu yang baik saat ini tidaklah mudah.

Tantangan nya menjadi begitu berlipat. Tidak hanya harus fokus pada perkembangan anak. Namun juga bagaimana menjaga anak dari pengaruh informasi yang begitu deras.

Namun setidaknya ada beberapa usaha yang bisa mama lakukan untuk selalu berusaha menjadi ibu yang baik.

1. Menjadi Pendengar yang baik

Prinsip yang harus dipegang adalah: Jangan sampai anak salah mencari tempat bercerita.

Sebisa mungkin moms hadir di setiap masalah yang dihadapi anak. Meski hanya sekedar mendengarkan cerita ringan mereka di sekolah. Atau hanya mendengarkan keluh kesah dan keinginan sederhana si buah hati.

Kehadiran kita dalam setiap problema sosial anak adalah kunci meraih kepercayaan anak. Dengan demikian mereka biasanya tidak akan segan mengungkapkan semua beban pada kita. Selain itu, mereka akan merasa memiliki sosok yang nyaman dan bisa diandalkan.

Disisi anak, dia akan merasa dihargai saat kita menyimak apa yang mereka hadapi. Jika kebiasaan ini ditanamkan sejak dini, akan membuat buah hati selalu datang kepada kita setiap ingin mencurahkan perasaannya.

2. Menerapkan disiplin sejak dini

Sepertinya semua orang tua, sejak dulu percaya bahwa metode asuh “Punish and Reward” efektif untuk mengajari anak disiplin dan tanggung jawab. Selama diterapkan sesuai porsi dan usia mental anak.

Memberikan hadiah

Jangan sungkan memberikan hadiah kecil atau sekedar pujian tatkala anak melakukan pencapaian positif dalam hidupnya.

Ini akan membuat anak merasa diperhatikan. Lebih jauh, mereka akan menjadi lebih termotivasi untuk melakukan pencapaian lebih tinggi.

Merasa bangga dan percaya diri adalah hal positif lain yang dicapai saat moms melakukan ini.

Namun perlu diingat juga, untuk tidak melakukan nya secara berlebihan. Bijak-bijaklah dalam melakukan hal ini. Sebaiknya diskusikan dengan pasangan ya.

Buatlah peraturan sederhana

Untuk hal ini buatlah batasan-batasan nya. Jelaskan di awal antara anak dan pasangan kita ya moms. Supaya secara konsisten diterapkan oleh semua nya.

Sebagai contoh cucilah piring kotor ketika selesai makan. Atau batas paling malam untuk tidur adalah jam 9. Boleh main gadget, tapi sehari maksimal 2 jam. Sepakati lah ini. Dan pastikan berlaku untuk semua anggota keluarga.

Saat anak terbiasa dengan peraturan yang jelas untuk hal-hal kecil, maka mereka akan siap untuk hal yang lebih besar di kemudian hari. Hingga mereka tumbuh dewasa.

Harapannya menjadi anak yang tahu batasan dan aturan. Bahkan ketika aturan itu mereka sendiri yang membuatnya.

Berikan Konsekwensi Saat Aturan dilanggar

disiplin pada anakPun sebaliknya, memberikan hukuman sewajarnya ketika mereka melakukan kesalahan yang tidak bisa ditolerir.

Berikanlah pengertian bahwa saat kita memberikan hukuman, bukan berarti kita tidak menyayangi mereka.

Tapi sebaliknya. Agar mereka tidak melakukan hal yang sama di masa yang akan datang.

3. Dukung Hal Positif

Setiap anak adalah unik. Punya hobi dan passion yang berbeda.

Tidak apa. Selama itu positif, dukunglah. Dan usahakan kita hadir dan ambil peran dalam usaha anak untuk mencapai hal tersebut.

Anak akan merasa perjuangan nya mempunyai energi lebih karena didukung oleh orang-orang yang menyayangi nya.

Ibu yang baik akan selalu ada mendukung dan mendoakan anak-anak nya sukses. Begitulah yang ada di benak mereka. Jadi pastikan moms dan anak memiliki frekuensi yang sama ya 🙂

Selama kita mampu, fasilitasi anak untuk meraih apa yang mereka mau. Namun tanpa kesan memanjakan tentu nya. Sekali lagi dalam hal ini, sikap bijak kita sebagai orang tua sangat lah penting.

4. Memberikan ‘ruang’ untuk anak

Tak sedikit orang tua yang menuntut anaknya untuk mengerjakan banyak hal. Seperti les piano, les tari dsb. Padahal, beban mereka di sekolah pun sudah cukup berat.

Tujuan awalnya memang sebisa mungkin untuk mengisi waktu anak dengan hal-hal yang positif.

Namun tahukah mom, kalau ternyata membebani anak terlalu berat dengan ekspektasi kita, justru malah gak baik lho.

Ada pepatah kuno mengatakan: “Too much work, make jack dull boy”

Membebani anak dengan segudang aktivitas, malah membuat perkembangan mental nya tidak bagus.

Sebaiknya anak diberikan waktu luang untuk menikmati waktu senggang nya. Harapanya agar anak merasa bahagia dan bisa mengekplorasi bakat lain yang mungkin dia minati.

Ingat, bahwa sejatinya dunia anak adalah dunia bermain. Belajar di sekolah formal adalah tuntutan sosial dari kita sebagai orang tua.

Coba sesekali melihat dengan bijak dari sisi anak. Apa yang ingin mereka lakukan. Berikan sedikit kebebasan. Selama dalam batas dan koridor positif, seharusnya tidak menjadi masalah.

5. Jangan membandingkan anak

Sebagai ibu yang baik dan bijak, seharusnya kita tahu betul bahwa anak paling tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain.

Jangan mengejar kesempurnaan, sehingga anak kita harus sama pintar nya dengan temannya yang juara kelas misalnya. Percayalah. Anak kita tidak suka itu.

Sekali lagi. Setiap anak adalah pribadi unik!

Mungkin anak kita tidak pandai matematika seperti kawan nya yang juara kelas. Tapi boleh jadi dia anak yang pandai menghargai orang lain. Sikap yang jarang atau belum dimiliki teman sebaya nya.

Alih-alih mencari kurangnya atau membanding-bandingkan, apresiasi lah sisi positif anak. Dan bantulah dia untuk mengembangkan hal tersebut.

6. Luangkan lebih banyak waktu

ibu dan anakJika moms adalah ibu yang bekerja, cobalah tinjau hal ini.

Berapa banyak waktu yang kita alokasikan untuk si kecil? Jika terlalu sedikit, ada baiknya dipertimbangkan lagi.

Tak jarang anak yang lebih nyaman menghabiskan waktu nya dengan orang lain, karena merasa orang tua nya tidak punya banyak waktu untuk mereka.

Seperti dikutip dari laman parents.com bahwa orang tua yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan anaknya, akan menghasilkan ikatan emosional yang lebih kuat antar kedua nya.

7. Ajarkan kejujuran

Ada kalanya anak tidak jujur dalam hal tertentu kepada orang tua.

Penyebabnya bisa beragam.

Karena takut orang tua nya menganggap itu hal tidak penting, sehingga anak memendam sendiri masalahnya.

Atau bisa pula anak merasa takut karena justru orang tuanya akan marah atau kecewa ketika mereka berkata jujur tentang suatu hal.

Atau, bisa pula mereka merasa malu karena ketika mereka bercerita, orang tuanya mengolok-olok atau bahkan menganggap cerita mereka tidak penting buat mereka.

Imbas dari hal-hal tersebut, akhirnya mereka enggan berkata jujur. Pemalu, pendiam dan jadi anak yang tidak percaya diri. Gawat kan moms.

Nah, untuk hal ini, latihlah diri kita untuk terbuka pada anak. Buat mereka merasa nyaman untuk bercerita.

Tanyakan kegiatan mereka disekolah hari ini. Apa saja yang mereka alami. Buat mereka bercerita senyaman mungkin.

Tahukah moms, bahwa peristiwa bully pada anak terjadi, karena mereka enggan bercerita hal tersebut pada orang tuanya?

Jangan sampai hal tersebut terjadi pada buah hati kita.

Sekali lagi, boleh jadi mereka tidak berani menceritakan bully yang mereka alami karena merasa malu, takut atau kurang merasa dekat dengan kita sebagai orang tua nya.

Mengajarkan kejujuran dan keterbukaan pada anak tentang hal-hal kecil saat ini, akan membawa sikap anak untuk berani jujur pada hal besar di kemudian hari.

8. Beri contoh langsung

Ibu adalah sosok yang pertama kali dilihat oleh anak. Bahkan sejak dia membuka mata di dunia ini. Wajar kalau semua tindak-tanduk ibu akan ditiru oleh anak.

Karena nya, pastikan kita jadi contoh yang baik buat mereka ya moms.

Sebelum menerapkan aturan, mengajarkan disiplin, atau mengajarkan kejujuran, pastikan kita pun sudah melakukan hal tersebut.

Menjadi teladan dan memberi contoh langsung adalah sebaik-baiknya metode mendidik anak. 

 

2 thoughts on “Ibu yang Baik – Tantangan Menjadi Ibu Generasi Milenial”

Leave a Comment